Peradaban manusia modern ditandai dengan semakin banyak citra atau gambar photo di hasilkan. Sejak ditemukan oleh Joseph Nicephore Niepce pada tahun 1822 (Wikipedia Indonesia) photography pada tahun 2000an telah berkembang pesat. Citra photo adalah hal lumrah karena hampir setiap orang yang memakai telepon genggam akan memakai dengan fitur kamera. Sedang fitur kamera sendiri pada telepon genggam seakan adalah fasilitas standar.
Gambar photo makin mudah diproduksi dimana pun oleh siapa pun. Kita sekarang seakan mendapat luberan citra dalam segala bentuk, dari gambar selfie hingga dokumenter serius soal sosial budaya.
Berhubungan dengan melimpahnya photo adalah gambaran citra udara yang dihasilkan oleh pesawat, balon atau satelit. Citra ini dimaksudkan untuk banyak hal, diantaranya adalah untuk studi penelitian dan peta. Yang menarik dari citra satelit adalah semakin mudah kita mengaksesnya bahkan dari telepon pintar. Sekarang kita melihat dunia sekeliling kita secara lebih utuh tidak sekedar dalam bentuk pandangan dengan garis batas bercakrawala tapi dari atas, dari langit.
Citra ini selain menjadi gambaran posisi pencapaian teknologi umat manusia juga membuka kesadaran pada keberadaan kita dalam perspektif yang berbeda sama sekali. Sebagai sebuah sudut pandang visual, citra dari langit menyajikan sisi kemanusiaan secara lebih utuh. Gambaran dari langit itu adalah rekam jejak umat manusia dalam segala rupa kondisi. Citra dari langit akan memperlihatkan bentuk populasi sebuah area, bagaimana sebuah daerah terpelihara dengan baik dan buruk dengan kata lain makmur atau tidak, bagaimana mereka mengelola sumber daya yang ada, bagaimana sebuah daerah rawan bencana atau dalam kondisi peperangan, bagaimana sebuah daerah mempersiapkan infrastruktur bahkan kekuatan militer.
Citra udara adalah cermin dari peradaban kita, sebuah cara untuk melihat diri kita sendiri, centang prenangnya kita atau kebanggaan kita sendiri.
Kudus, 18|4|14
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 April 2014
Rabu, 02 November 2011
Kamis, 16 Desember 2010
Paradigma Holografik::Alam Semesta sebagai Hologram
Oleh Michael Talbot
Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.
Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.
Kamis, 20 Agustus 2009
YANG AKU TAHU, INGAT DAN RASAKAN
Kita menyerap banyak hal dari dunia; citra, suara, teks, simbol, sentuhan dan lainnya. Semua itu menimbulkan sensasi yang pada gilirannya melahirkan imajinasi, ingatan dan visi.
Sensasi yang nota bene berasal dari indera itu akhirnya juga di cerap secara nalar menjadi pengetahuan. Sensasi / imajinasi artistik, ingatan dan pengetahuan bercampur baur dalam benak kita, karena itu kita sering sulit membedakan antara mengetahui dan merasakan. Pada kasus 'firasat' seseorang sebenarnya tengah merasakan sesuatu tetapi pada akhirnya malah sering menjadi seperti telah mengetahui sesuatu.
Sensasi yang nota bene berasal dari indera itu akhirnya juga di cerap secara nalar menjadi pengetahuan. Sensasi / imajinasi artistik, ingatan dan pengetahuan bercampur baur dalam benak kita, karena itu kita sering sulit membedakan antara mengetahui dan merasakan. Pada kasus 'firasat' seseorang sebenarnya tengah merasakan sesuatu tetapi pada akhirnya malah sering menjadi seperti telah mengetahui sesuatu.
Kamis, 12 Maret 2009
DRAWING DOKUMENTER
DRAWING
Gambar dari segi teknis lebih mudah dirumuskan sebagai guratan arsir atau gosok dengan material kering dan tidak berwarna. Sedang melukis menggunakan material basah dan berwarna. Namun batasan-batasan teknis ini sekarang cenderung samar. Seniman rupanya tidak mau terkungkung pada rumusan yang dianggap membatasi.
Bagi kalangan fanatik, gambar/ menggambar bisa disebut sebagai "Mother Of Art", ibu dari segala seni. Hal itu berdasarkan anggapan bahwa setiap karya seni, bahkan desain dan lainnya akan bermula dari rencana dan pikiran seniman yang tertuang pada awalnya berupa gambar.(Mikke Susanto, Membongkar Seni Rupa).
Gambar dari segi teknis lebih mudah dirumuskan sebagai guratan arsir atau gosok dengan material kering dan tidak berwarna. Sedang melukis menggunakan material basah dan berwarna. Namun batasan-batasan teknis ini sekarang cenderung samar. Seniman rupanya tidak mau terkungkung pada rumusan yang dianggap membatasi.
Bagi kalangan fanatik, gambar/ menggambar bisa disebut sebagai "Mother Of Art", ibu dari segala seni. Hal itu berdasarkan anggapan bahwa setiap karya seni, bahkan desain dan lainnya akan bermula dari rencana dan pikiran seniman yang tertuang pada awalnya berupa gambar.(Mikke Susanto, Membongkar Seni Rupa).
Selasa, 10 Februari 2009
TEORI SEMESTA HOLOGRAM YANG INSPIRATIF
Beberapa saat yang lalu saya mendapat kiriman E book dari seorang teman, dalam salah satu babnya ada tema yang sangat menarik perhatian saya yaitu mengenai Teori Alam semesta Hologram. Saya memang menggemari segala hal ikhwal alam semesta mungkin karena sifatnya yang selalu misteri.
Teori itu bermula dari temuan Alain Aspect bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel sub atomik, elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya mereka terpisah beberapa jengkal atau sepuluhan milyar kilometer. (lebih lanjut , http://www.lintasberita.com/Entertainment/Sains/Alam_Semesta_Sebagai_Hologram)
Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain.
Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripadakecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.
Teori itu bermula dari temuan Alain Aspect bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel sub atomik, elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya mereka terpisah beberapa jengkal atau sepuluhan milyar kilometer. (lebih lanjut , http://www.lintasberita.com/Entertainment/Sains/Alam_Semesta_Sebagai_Hologram)
Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain.
Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripadakecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.
Senin, 29 September 2008
Desain Produk untuk Indonesia
Desain dalam arti tertentu sebetulnya telah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia. Di tengah berbagai permasalahan yang mendera sudahkan desain berperan penting dalam memecahkan masalah? Salah satu akar permasalahan adalah kemiskinan yang nota bene akrab dengan rakyat jelata.
Desain yang berwawasan kerakyatan sepertinya perlu menjadi wacana, yaitu desain yang berpaling kepada permasalahan rakyat sehingga tujuan dan proses penciptaannya adalah atas dasar pertimbangan sumber daya yang ada.
Desain seperti apa yang kita maksud sebagai pemecah masalah dan sekaligus bisa menjadi rujukan nilai sebagai desain Indonesia? kita tidak memiliki apa yang secara pasti disebut sebagai desain Indonesia karena dalam tataran budaya keIndonesiaan adalah juga masalah besar yang belum terselesaikan.
Desain Indonesia rasanya akan bernasib sama dengan kesenian, Seni rupa Indonesia dan aspek kebudayaan lainnya dan hanya akan menjadi polemik yang berkepanjangan.
Seperti yang sudah disinggung di atas Desain Indonesia menurut hemat saya adalah desain yang pada prinsipnya adalah desain yang memecahkan masalah khas Indonesia dengan segenap aspek nilai artistik dan budaya yang melingkupinya. Aspek budaya disini bukan sekedar mencomot elemen artistik kemudian memaksakannya menjadi bagian desain tetapi dikembalikan lebih kepada ruang apresiasi terhadap lingkungan budaya perancangan, jadi sifatnya juga tidak menampik kemungkinan menjadi individual.
Alasannya adalah masing-masing pribadi yang terlibat dalam proses perancangan pasti akan membawa aspek budaya dalam bentuk apapun itu. Studi-studi Proses kreatif dalam dunia akademis pada kenyataannya selalu melibatkan latar belakang sejarah pelaku sebagai rujukan karya. Soal perancang kemudian sengaja mencomot langsung elemen budaya lokal tanpa memahaminya dengan baik itu adalah perkara lain.
Indonesia yang tengah mengalami kemelut multi aspek yang berkepanjangan membutuhkan rancang bangun desain yang baik. Desain seharusnya tidak menjadi menara gading karena menjadi ekslusive dan sulit diakses hingga hanya menjadi milik mereka yang berduit dan merasa melek desain.
Sudah saatnya apresiasi desain mengarah pada sumber daya lokal yang pada kenyataannya telah hidup. Berbagai karya cipta desain rakyat seperti bermacam-macam bentuk kerajinan mestinya perlu mendapat perhatian lebih, bukan hanya kepada pihak pemerintah tapi juga kalangan akademisi. Desain terutama 'produk desain' bukan melulu milik industri berkapital besar karena kenyataannya infrastrukur industri besar gagal terbangun. Masyarakat industri seperti yang dibayangkan tidak pernah terwujud.
Karya karya kerajinan / Craft yang justru secara nyata menjadi bagian penting Desain Indonesia sekaligus sebagai pemecah masalah tidak hanya demi desain itu sendiri tetapi juga untuk kemakmuran. Mereka yang merasa berkepentingan seharusnya melihat sumber daya ini agar kehidupannnya terjamin kemudian berkembang sebelum karya itu lumpuh oleh serbuan produk asing yang jauh lebih bersaing.
Desain yang berwawasan kerakyatan sepertinya perlu menjadi wacana, yaitu desain yang berpaling kepada permasalahan rakyat sehingga tujuan dan proses penciptaannya adalah atas dasar pertimbangan sumber daya yang ada.
Desain seperti apa yang kita maksud sebagai pemecah masalah dan sekaligus bisa menjadi rujukan nilai sebagai desain Indonesia? kita tidak memiliki apa yang secara pasti disebut sebagai desain Indonesia karena dalam tataran budaya keIndonesiaan adalah juga masalah besar yang belum terselesaikan.
Desain Indonesia rasanya akan bernasib sama dengan kesenian, Seni rupa Indonesia dan aspek kebudayaan lainnya dan hanya akan menjadi polemik yang berkepanjangan.
Seperti yang sudah disinggung di atas Desain Indonesia menurut hemat saya adalah desain yang pada prinsipnya adalah desain yang memecahkan masalah khas Indonesia dengan segenap aspek nilai artistik dan budaya yang melingkupinya. Aspek budaya disini bukan sekedar mencomot elemen artistik kemudian memaksakannya menjadi bagian desain tetapi dikembalikan lebih kepada ruang apresiasi terhadap lingkungan budaya perancangan, jadi sifatnya juga tidak menampik kemungkinan menjadi individual.
Alasannya adalah masing-masing pribadi yang terlibat dalam proses perancangan pasti akan membawa aspek budaya dalam bentuk apapun itu. Studi-studi Proses kreatif dalam dunia akademis pada kenyataannya selalu melibatkan latar belakang sejarah pelaku sebagai rujukan karya. Soal perancang kemudian sengaja mencomot langsung elemen budaya lokal tanpa memahaminya dengan baik itu adalah perkara lain.
Indonesia yang tengah mengalami kemelut multi aspek yang berkepanjangan membutuhkan rancang bangun desain yang baik. Desain seharusnya tidak menjadi menara gading karena menjadi ekslusive dan sulit diakses hingga hanya menjadi milik mereka yang berduit dan merasa melek desain.
Sudah saatnya apresiasi desain mengarah pada sumber daya lokal yang pada kenyataannya telah hidup. Berbagai karya cipta desain rakyat seperti bermacam-macam bentuk kerajinan mestinya perlu mendapat perhatian lebih, bukan hanya kepada pihak pemerintah tapi juga kalangan akademisi. Desain terutama 'produk desain' bukan melulu milik industri berkapital besar karena kenyataannya infrastrukur industri besar gagal terbangun. Masyarakat industri seperti yang dibayangkan tidak pernah terwujud.
Karya karya kerajinan / Craft yang justru secara nyata menjadi bagian penting Desain Indonesia sekaligus sebagai pemecah masalah tidak hanya demi desain itu sendiri tetapi juga untuk kemakmuran. Mereka yang merasa berkepentingan seharusnya melihat sumber daya ini agar kehidupannnya terjamin kemudian berkembang sebelum karya itu lumpuh oleh serbuan produk asing yang jauh lebih bersaing.
Jumat, 05 September 2008
Mengurai dan Mempresentasikan lagi
Realitas yang Multi Segi
Menurut saya kehidupan menampakkan wajah multi facet bahkan pada tingkat paling sederhana yaitu pada benda. Pada satu benda kita akan menemukan berbagai segi, misalnya segi unsur-unsur pembentuknya sendiri, segi sejarah hingga ke segi pemaknaan atas benda tersebut. Maka benda sendiri memiliki nilai obyektif dan nilai tafsir atau subyektif. Sehingga sebuah benda pada dasarnya memiliki sifat rekam jejak yang ada pada dirinya sendiri dan juga dalam konteks waktu atau bisa disebut sejarah, masih juga bernilai unik karena tafsir individu.
Kehidupan tentu bukan sekedar benda tetapi juga adalah berupa fakta kejadian atau peristiwa dimana kesadaran manusia kemudian membawanya ke dalam bentuk yang lebih rumit. Karena di dalamnya tersusun dari sekian banyak permasalahan selain benda benda, bergeraknya momen perubahan dalam arus waktu kemudian adalah pemaknaan kita atas segala hal benda dan kejadian yang pada akhirnya membentuk sistem nilai.
Benda dan peristiwa kebanyakan tampil menggumpal dalam satu pemaknaan tunggal misalnya sebuah Vas bunga, di dalam bentuk yang sederhana kita mengenalnya lewat bentuknya yang rata rata khas seperti itu dan fungsinya sebagai tempat bunga. Padahal jika kita urai lebih jauh maka akan nampak segi segi lain contohnya; bentuknya bergaya apa, jenis bahan dari apa, diambil dari mana, dibuat dimana, oleh siapa, teknis pembuatannya, dan lain-lain.
Mengurai Memperluas Arti
Seturut dengan apa yang telah ditulis di atas maka karya saya dimaksudkan untuk mengurai, segala benda dan peristiwa. Jadi masalahnya adalah lebih pada bagaimana cara anda mengeskpresikan sesuatu, sehingga temanya meluas bahkan menjadi tidak terbatas.
Tujuannya adalah untuk lebih memahami tentang suatu hal kemudian memperluas artinya dengan mengimbuh makna baru lewat penafsiran yang baru.
Acuan Bentuk
Jadi bagaimana satu persoalan kemudian diurai menjadi berbagai segi melalui berbagai sudut pandang. Dalam ranah Desain ada sebentuk presentasi kerja berupa sketsa rendering. Di dalamnya berisi semacam gambaran gagasan ( berupa benda rancangan) yang secara visual di bagi ke dalam berbagai sudut pandang. Memakai prinsip Technical Drawing yang di bagi ke dalam top, front, side dan bottom view, kadang juga berisi gambaran proses assembly dan jenis bahan dan kontruksi penyusunnya. Sketsa rendering sendiri bertujuan agar benda hasil rancangan bisa dilihat ke dalam berbagai sudut sehingga fungsi rancangan dan nilai artistiknya dapat dikaji dan diperkirakan.
Dengan meminjam bentuk representasi tersebut akan mampu merangkum dan menggambarkan dengan relatif utuh tentang apa yang saya tahu, pikirkan dan rasakan.
Langganan:
Postingan (Atom)